Rabu, 25 Juni 2008

Teluk Bintuni Guide | Papua | Indonesia

Teluk Bintuni Guide | Papua | Indonesia

Deskripsi Umum Kawasan Teluk Bintuni Kawasan teluk bintuni merupakan suatu kawasan yang sangat memiliki kekhasan tersendiri di banding kawasan-kawasan lain di Papua, kekhasan tersebut setidaknya dapat terlihat pada gugusan sabuk hijau yang terletak pada sepanjang pesisir dan hampir pada setiap pulau di kawasan tersebut. Sebagai suatu kawasan Mangrove dengan formasi terluas di Indonesia dan terbaik di Asia tenggara (PHPA/AWB, 1991), teluk Bintuni menyimpan potensi alam yang sangat mendukung kehidupan manusia. Masyarakat dari tujuh suku besar yang bermukim di kawasan tersebut yaitu suku Irarotu, Wamesa, Sebiar, Simuri, Kuri, Soub dan Moskona dengan latar belakang kultural yang berbeda dan hidup dalam wilayah yang relatif berdekatan serta bersama-sama memanfataatkan sumber daya alam yang untuk mempertahankan hidup. Kearifan tradisional yang merupakan bagian potensi sosio-kultural tersebut menjadi salah satu kekuatan dalam proses pelestarian lingkungan hutan manggrove. Berkelanjutannya kehidupan ekosistem hutan manggrove merupakan cerminan dari berkelanjutannya kehidupan maasyarakat asli setempat. Singkatnya kawasan teluk Bintuni dengan segala kekhasan dan potensinya merupan tempat bergantung untuk pemenuhan hidup masyarakat setempat. Jauh sebelum Indonesia masuk ke Papua kawasan teluk bintuni telah dijadikan kawasan eksploitasi sumber daya alam oleh penguasa-penguasa terdahulu (Belanda) hal ini dapat jelas terlihat apabila kita mengunjungi kawasan teluk Bintuni, misalnya pada muara Muturi kita akan menemukan bekas pelabuhan minyak Belanda atau dari nama kota Bintuni yang dulunya bernama stengkold (bahasa belanda) yang artinya batu-bara tepatnya kawasan tersebut dulunya juga merupakan kawasan panambangan batu-bara yang sampai saat ini bekas-bekas rel kereta masih jelas terlihat disepanjang jalan kota Bintuni. Setelah pemerintah Indonesia masuk ke Papua kawasan teluk Bintuni tetap menjadi kawasan eksploitasi sumber daya alam, saat ini setidaknya terdapat 11 HPH (hak pengusahaan hutan), 2 HTI (perkebunan) dan 2 perusahaan tambang yang beroperasi pada kawasan tersebut, namun demikian hal yang sangat kontradiktif terlihat jelas pada kawasan tersebut meskipun ada investasi asing dan domestik dalam industri kehutanan, perkebunan, perikanan, sagu, dan juga eksplorasi minyak dan gas, kehidupan masyarakat setempat tidak pernah beranjak baik bahkan mereka hampir tidak memiliki akses pada semua investasi tersebut, yang hampir seluruhnya berada di tangan migran dan imigran dari pulau lain di Indonesia.

Tidak ada komentar: