Selasa, 08 Juli 2008

Teluk Bintuni Guide | Papua Barat | Indonesia |perikanan

Teluk Bintuni Guide | Papua Barat | Indonesia |perkebunan

Hutan Teluk Bintuni menjadi tempat hidup berbagai hewan. Sedikitnya teramati 39 jenis burung.

Bagian selatan Teluk Bintuni merupakan sumber daya lahan potensial untuk pengembangan komoditas perkebunan. Di kawasan ini, kemiringan lahan 0-25 persen dengan curah hujan rata-rata 2.500 mm per tahun. Luas lahan yang tersedia dan siap digarap 250.000 hektar.

Di Desa Aroba antara Distrik Babo dan Iraruti, terdapat lahan kelapa sawit. Perkebunan swasta ini menempati lahan 8.500 hektar atau 3,4 persen dari luas lahan yang tersedia.

Komoditas kebun lain seperti kopi dan kakao, tumbuh baik di hampir seluruh distrik, kecuali Babo dan Arandai. Pada saat panen, pedagang pengumpul datang ke Teluk Bintuni. Mereka membeli kopi atau kakao kemudian dijual ke pasar di Manokwari dan Fakfak. Harga kakao Rp 8.000-Rp 9.000 per kilogram, kopi sekitar Rp 3.000 per kilogram. Usaha perkebunan menyerap 15-20 persen dari seluruh tenaga kerja.

Perut bumi Teluk Bintuni terbilang kaya akan bahan tambang dan galian. Hampir seluruh kawasan mengandung gas alam cair (LNG). Cadangan yang dimiliki diperkirakan 23,7 triliun kaki kubik (TCF). Kandungan minyak bumi di kabupaten ini diperkirakan 45 juta ton. Sentra pemanfaatan LNG di Kampung Tanah Merah, Distrik Babo, sedangkan konsentrasi pengambilan minyak bumi di Distrik Muskona Selatan.

Tidak ada komentar: