Selasa, 15 Juli 2008

Teluk Bintuni Guide | Papua Barat | Indonesia | Berita

Teluk Bintuni Guide | Papua Barat | Indonesia | Berita

Wabah diare jangkit warga Teluk Bintuni, Kabupaten Bintuni, Papua, akibatnya 15 orang tewas.
Mereka yang meninggal berasal dari Kampung Tomoekang sebanyak 11 orang dan empat orang lagi masing-masing berada di Kampung Kali Tami, Arthamas dan Wariagar.
Meninggalnya 15 orang sepanjang September ini bisa dikategorikan sebagai kejadian luar biasa. Menurut Kepala Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Teluk Bintuni, dr. Mia Kusumaningrum Go, karena faktor kondisi air untuk kebutuhan keluarga, seperti kebutuhan air minum, mandi, cuci dan kakus (MCK) di kawasan Teluk Bintuni secara umum dan secara khusus di Distrik Aranday dan Babo sangat memprihatinkan dana tak layak bagi kesehatan.
Selain air yang kurang higienis, menurut Mia, masyarakat setempat kurang mau berkomunikasi dengan petugas puskesmas setempat. Jati, ketika terkena
diare, mereka tidak langsung datang ke Puskesmas,
tetapi mencari obat-obatan tradisional. Kalaupun akhirnya
berobat ke puskesmas, biasanya bagi penderita
sudah dalam keadaan gawat. Sehingga mereka yang
terkena penyakit diare ini biasanya sudah susah
tertolong lagi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap
air di kawasan Teluk Bintuni, umumnya di daerah
Aranday, terdapat colera altor. "Colera altor inilah yang menyebabkan diare,"kata Dr. Mia.
Untuk mengatasi wabah diare tersebut, pihak Dinas
Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Teluk
Bintuni bekerjasama dengan pihak perusahaan gas alam
cair, LNG Tangguh BP-Indonesia yang ada di daerah
tersebut terus berupaya menyediakan sumber-sumber air
bersih bagi masyarakat setempat. "Juga kami telah melakukan penyuluhan tentang pentingnya kebutuhan air bersih yang higienis bagi rumah tangga, serta pentingnya memperhatikan sanitasi,"katanya.

sumber www.tempointeraktif.com

Tidak ada komentar: